100 Juta Suara Dukung "REFERENDUM" West Papua

11 April 2011

KNPB : Status Politik Papua Siap Diusut Ke Mahkamah Internasional


Bucthar Tabuni Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menyatakan saat ini perjuangan  International Lawyers for West Papua (ILWP) siap mengajukan status politik Papua untuk di bahas di Mahkamah Internasional.
"Ada sekitar 62 angota ILWP (pengacara internasional), 50 anggotanya  dari beberapa negara di wilayah Eropa dan 12 anggota lainya dari Pasifik, akan menggugat pelaksanaan PEPERA 1969 ke Mahkamah Internasional pada tanggal 2 agustus 2011 nanti." kata Bucthar Kepada Cendem, Sabtu (9/4)
Dia menjelaskan proses ini telah dilalui dengan perjuangan yang panjang oleh tuan Beny Wanda dan beberapa aktivis organisasi Papua Merdeka (OPM) lainnya yang saat ini
sedang berada di Luar Negeri. Perjuangan tersebut telah mendapatkan respon dari beberapa Lembaga Swadaya  Masyarakat (LSM) Internasional seperti Free West Papua Campaign (FWPC) di London yang di pimpin oleh Richad Samuelson.  Pada tanggal 15 oktober 2008 lalu, International Parliamentarians for West Papua (IPWP), yang di pimpin oleh Andre Smith MP,  meminta  pelaksaanan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Papua pada tahun 1969 direview kembali dan referendum ulang bagi bangsa Papua, sesuai mekanisme Internasional dari Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB). Selanjutnya pada tanggal  3 sampai 5 April 2009, lahirlah ILWP di Guyana Amerika Selatan, yang saat ini di pimpin oleh Melinda Janki.
Bucthar mengatakan, semua proses ini sekiranya, jika tidak ada halangan, akan diakhiri pada tanggal 2 Agustus 2011 mendatang di London, UK dan akan di hadiri oleh pengamat dari Mahkamah Internasional, Amnesty Internasional, Human Rights Wacth dan sejarawan  dari berbagai Universitas dan LSM yang selama ini mendukung perjuangan Bangsa Papua Barat sebagai sebuah Negara. Iven ini juga di katakan, akan di dorong secara penuh oleh salah satu negara yang juga adalah anggota PBB, yaitu Vanuatu.
Sehingga pihaknya mengharapkan rakyat asli Papua agar tetap tenang dan tidak terprovokasi dengan berbagai isu serta propaganda yang saat ini sedang dilakukan di Papua.
"Kami hanya ingin menjelasakan sebagian besar dari proses perjuangan yang saat ini sedang berjalan, agar masyarakat tidak pesimis dan terpengaruh dengan berbagi pernyataan-peryataan serta momen-momen politik yang saat ini sedang diupayakan di Papua," ujar Buchtar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar