100 Juta Suara Dukung "REFERENDUM" West Papua

29 Desember 2010

Putri Sulung Bangsa Papua

FORUM DEMOKRASI Papua Bersatu memberikan gelar "Putri Sulung Bangsa Papua" kepada aktivis hak asasi manusia Carmel Budiardjo dari London pada 28 Desember 2010 di Bali. Acara dihadiri beberapa tokoh Papua, termasuk Mama Yosepha Alomang dari Timika, Pendeta Benny Giay dari STT Walter Post, Federika Korain dan Salmon Yumame dari Forum Demokrasi.

Acara diselenggarakan di Bali karena Budiardjo, sebagai non-warga Indonesia, memerlukan "surat jalan" bila hendak masuk ke Papua. Aturan tersebut dipakai oleh Indonesia untuk menghalangi aktivis, wartawan maupun diplomat internasional, datang ke Papua.


Menurut siaran pers Forum Demokrasi, "Ibu Carmel Budiardjo, yang saat ini telah berusia 85 tahun, menunjukkan komitmen untuk berjuang bersama bangsa Papua agar menemukan jati diri dan kebebasan hakiki yang diberikan oleh Tuhan kepada bangsa Papua."

Budiardjo dibaptis dengan nama: Papuaumau (bahasa Mee) atau Venia Ati (bahasa Maybrat) atau Bin Syowi (bahasa Biak). Semua kata tersebut berarti "putri sulung" dalam tiga bahasa di Papua. Benny Giay mengatakan "Ibu Carmel" adalah "orang asli Papua" karena perjuangan dan komitmen terhadap hak asasi manusia.

Prosesi pengukuhan ditandai dengan prosesi tarian adat oleh mahasiswa dan mahasiswi di Bali. Mereka mengantar Mama Yosepha, yang memikul noken berisi gambar Carmel Budiardjo. Lukisan kayu ini menggambarkan Budiardjo dengan salah satu tangan menantang Pulau Papua dan manusia Papua. Sekaligus tertulis juga nama Papua Carmel Budiardjo: Papuaumau atau Venia Ati atau Bin Syowi.

Gambar kulit kayu Putri Sulung Bangsa Papua
Dalam pidatonya, Carmel Budiardjo mengatakan dia terharu dan berterimakasih kepada Forum Demokrasi Papua Bersatu. Dia menyatakan akan tetap bikin kampanye soal hak asasi manusia bangsa Papua.

Carmel Budiardjo kelahiran London pada 1925. Dia lulus sebagai ekonom dari University of London pada 1946. Dia bertemu dengan Suwondo Budiardjo, seorang pejabat pemerintah Indonesia, ketika mereka ada di Praha. Mereka menikah dan pindah ke Jawa pada 1952. Pada 1965, Jenderal Soeharto mengambil alih kekuasaan serta memenjarakan ribuan warga Indonesia, termasuk Suwondo selama 12 tahun. Carmel sendiri dipenjara tiga tahun dan diusir dari Indonesia sesudah bebas pada 1971.

Di London, Carmel Budiardjo mendirikan Tapol, singkatan dari "tahanan politik," guna kampanye pembebasan para tapol di Indonesia. Tapol lantas memperluas kampanye mereka dengan riset tentang kegiatan militer Indonesia dan pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur, Aceh dan Papua. Buletin Tapol merupakan referensi penting soal hak asasi manusia di Indonesia pada 1970an hingga 1990an. Pada 1983, Tapol menerbitkan buku West Papua: The Obliteration of a People.

Kerja Budiardjo di bidang hak asasi manusia mendapat penghargaan di berbagai tempat. Pada 1995, Carmel Budiardjo menerima penghargaan Right Livelihood Award. Dia menulis otobiografi Surviving Indonesia’s Gulag pada 1996. Pada 1999, International Forum for Aceh, yang berpusat di New York, resmi memberi gelar khas perempuan Aceh kepada "Tjut Carmel Budiardjo." Tahun lalu, Presiden Timor Leste Jose-Ramos Horta memberi Bintang Timor Leste kepada Budiardjo karena "impressive contribution to peace, to the Timorese people and to humanity."

Di Bali, acara ditutup dengan jamuan khas Papua berupa papeda, kuah ikan, petatas, keladi dan daun kasbi. Budiardjo didampingi putra dan putri dia dalam upacara tersebut

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar